BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Suatu
perusahaan tertentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai tujuan
didirikannya perusahaan tersebut. Untuk menunjang agar tercapainya tujuan
itu, setiap perusahaan mempunyai aktiva (harta/asset) tertentu guna
memperlancar kegiatan yang dilaksanakan perusahaan.
Aktiva tetap
merupakan komponen yang sangat penting bagi perusahaan untuk kegiatan
operasionalnya. Aktiva tetap tersebut merupakan salah satu komponen dalam
neraca, sehingga ketelitian dalam pengolahan aktiva tetap sangat berpengaruh
terhadap kewajaran penilaiannya dalam laporan keuangan.
Kewajaran
penilaian aktiva tetap suatu perusahaan dapat disesuaikan dengan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 (2009). Dalam PSAK ini dinyatakan bahwa
aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi
atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau
tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu
periode.
Aset tetap
biasanya memiliki masa pemakaian lebih dari satu tahun, sehingga diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam jangka waktu yang relatif lama.
Namun, manfaat yang diberikan aktiva tetap umumnya semakin lama semakin menurun
manfaatnya secara terus menerus, dan menyebabkan terjadi penyusutan (depreciation).
Seiring dengan berlalunya waktu, aktiva tetap akan mengalami penyusutan
(kecuali tanah). Faktor yang mempengaruhi menurun kemampuan suatu
aktiva tetap untuk memberikan jasa/manfaaat yaitu : Secara fisik, disebabkan
oleh pemakaian dan keausan karena penggunaan yang berlebihan dan secara
fungsional, disebabkan oleh ketidakcukupan kapasitas yang tersedia dengan yang
diminta (misal kemajuan teknologi).Sehingga
penurunan kemampuan aktiva tetap tersebut dapat dialokasikan sebagai biaya.
Masalah
pengalokasian biaya penyusutan merupakan masalah penting, karena mempengaruhi
laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Apabila menggunakan metode
penyusutan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku atau kondisi
perusahaan tersebut, maka akan mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan setiap
periode akuntansi. Selain itu juga mempengaruhi nilai dari aktiva tetap
tersebut.
Dalam
perhitungan penyusutan aktiva tetap terdapat beberapa metode yang dapat
digunakan, antara lain : metode garis lurus, metode saldo menurun, metode
jumlah angka tahun, metode unit input dan metode unitoutput.
1.1 Rumusan Masalah
1.
Pengertian
Aset tetap
2. Klasifikasi Aset
Tetap
3. Konsep Aset Tetap
4. Pengakuan Transaksi Aset
Tetap
5. Pelaporan Aset Tetap
6. Pengertian Depresiasi
7. Kriteria Barang Terkena Depresiasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aset tetap
Aset tetap adalah aset berujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak
dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.
Karakteristik aset tetap sebagai berikut:
1. Dimiliki
perusahaan untuk digunakan (bukan barang dagangan)
2. Dimiliki
untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang utama (bukan investasi jangka
panjang)
3. Dimiliki
untuk digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu siklus operasi perusahaan
(bukan perlengkapan)
4. Memiliki
nilai yang relatif tinggi
Dikarenakan memiliki nilai yang
tinggi, penggunaan yang relatif lama dan menjadi alat utama perusahaan
menghasilkanrevenue, maka investasi dalam aset tetap (Capital Budgeting)
harus diperhitungkan dengan matang.
2.2 Klasifikasi Aset Tetap
Umumnya aset tetap dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
1. Tanah,
seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung perusahaan.
2. Perbaikan
Tanah, seperti jalan diseputar lokasi perusahaan yang dibangun perusahaan,
tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.
3. Gedung,
seperti gedung yang digunakan untuk kantor, toko, pabrik, dan gudang.
4. Peralatan,
seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan, dan meubel.
2.3 Konsep Aset Tetap
Menurut
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 aset tetap adalah aset
berwujud (tangible fixed assets) yang memenuhi kriteria sebagai
berikut:
- masa manfaatnya lebih dari satu
tahun;
- digunakan dalam kegiatan
perusahaan;
- dimiliki tidak untuk dijual
kembali dalam kegiatan normal perusahaan; serta
- nilainya cukup besar.
Contoh dari
aset tetap adalah (mobil) kendaraan. Mobil mempunyai masa manfaat lebih dari
satu tahun dan digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan, seperti
mengirim barang ke pembeli, mobil inventaris direksi perusahaan. Mobil yang
dikategorikan sebagai aset tetap tidak untuk dijual kembali. Apabila untuk
dijual kembali, misalnya bagi perusahaan dealer mobil, maka mobil dalam hal ini
termasuk kelompok persediaan. Selain itu nilainya cukup besar untuk sebuah
aset. Peralatan yang nilainya relative kecil, seperti sendok, piring, gelas,
meskipun mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak dikelompokkan ke
dalam aset tetap.
Biaya Perolehan
Semua biaya yang terjadi untuk
memperoleh suatu aset tetap samapi tiba di tempat dan siap digunakan harus
dimasukkan sebagai bagian dari harga perolehan (cost) aset yang
bersangkutan. Dengan demikian harga perolehan suatu aset tetap tidak terbatas
pada harga belinya saja.
Berikut adalah contoh biaya
perolehan tanah.
|
Rp 100.000.000,-
|
|
Rp
7.500.000,-
|
|
Rp
2.500.000,-
|
|
Rp 10.000.000,-
|
|
Rp 15.000.000,-
|
|
JUMLAH
|
Rp 135.000.000,-
|
Berdasarkan semua biaya yang
dikeluarkan di atas, maka biaya perolehan untuk tanah adalah Rp 147.500.000,-.
Sementara untuk mesin (peralatan) biaya perolehan dapat terdiri dari harga
beli, biaya kirim, biaya instalasi (pemasangan), biaya training untuk operator,
dan biaya set up.
Perolehan aset tetap dapat dilakukan
dengan berbagai cara. Biasanya melalui pembelian tunai, pembelian kredit,
pembelian dengan angsuran maupun leasing.
Penyusutan
Semua jenis
aset tetap, kecuali tanah, akan makin berkurang kemampuannya untuk memberikan
jasa bersamaan dengan berlalunya waktu. Beberapa factor yang mempengaruhi
menurunnya kemampuan ini adalah karena pemakaian, keausan, ketidakseimbangan
kapasitas yang tersedia dengan yang diminta dan ketetinggalan teknologi.
Berkurangnya
kapasitas berarti berkurangnya nilai aset tetap yang bersangkutan. Hal ini
perlu dicatat dan dilaporkan. Pengakuan adanya penurunan nilai aset tetap
berwujud disebut penyusutan (depresiasi / depreciation).
Penyusutan dapat dihitung tiap-tiap bulan atau ditunda sampai dengan akhir
tahun.
Terdapat
beberapa metode untuk menghitung penyusutan aset tetap berwujud. Ada dua factor
yang mempengaruhi besarnya penyusutan, yaitu
a) Nilai
aset tetap yang digunakan dalam perhitungan pernyusutan (dasar penyusutan),
dapat berupa harga perolehan atau nilai buku.
b) Taksiran
manfaat, mencerminkan besarnya kapasitas / manfaat aset tetap selama dipakai.
Taksiran ini dapat dinyatakan dalam lamanya jangka waktu pemakaian atau
kapasitas produksi yang dihasilkan. Untuk menghitung penyusutan, taksiran
manfaat dinyatakan dalam tarif penyusutan.
Dari uraian di atas, maka secara
umum penyusutan aset tetap dapat dihitung dengan rumus:
|
Berikut adalah metode yang lazim
digunakan untuk penyusutan aset tetap.
- Metode Garis Lurus (Straight
Line Method)
Metode garis lurus menghasilkan jumlah
beban penyusutan yang sama setiap tahun sepanjang umur manfaat suatu aset
tetap. Rumus yang digunakan untuk menghitung biaya penyusutan per tahun dengan
metode ini adalah:
|
Harga Perolehan Aset Tetap
|
-
|
Nilai Sisa
|
||
|
Biaya Penyusutan
|
=
|
---------------------------------------------------------
|
||
|
Umur Ekonomis
|
||||
Sebagai contoh, asumsikan
bahwa biaya akuisisi aset tetap adalah Rp 24.000.000,-, dimana estimasi nilai
sisa adalah Rp 2.000.000,- dan manfaat ekonomisnya 5 tahun. Penyusutan tahunan
aset tersebut dihitung sebagai berikut:
Rp 24.000.000 - Rp 2.000.000
--------------------------------------
= Rp 4.400.000,- penyusutan per tahun.
5 tahun
Jika suatu aset tidak digunakan
setahun penuh, maka penyusutan tahunannya disesuaikan menurut lamanya
pemakaian. Mislkan aset tetap di atas digunakan mulai 1 Oktober, sedangkan
akhir tahun fiskal adalah 31 Desember. Maka penyusutan untuk tahun pertama
adalah Rp 1.100.000,- (Rp 4.400.000,- x 3/12).
Untuk kemudahan penerapan meted
garis lurus,, penyusutan tahunan bisa dikonversi ke persentase biaya yang dapat
disusutkan. Persentase ini ditentukan dengan membagi 100% dengan lamanya umur
manfaaat. Sebagai contoh, jika umur manfaatnya 20 tahun, maka persentase
penyusutan tahunannya adalah 5% (100% dibagi 20). Jika umur manfaatnya 8 tahun
maka persentase beban penyusutan tahunannya adalah 12,5% (100% dibagi 8).
Dengan demikian pada contoh di atas, biaya penyusutan di atas dapat dihitung
dari Rp 22.000.000 dikali 20% (100%/5).
Metode garis lurus sangat sederhana
dan digunakan secara luas. Mtode ini menciptakan transfer biaya yang wajar ke
beban periodic jika pemanfaatan aset dan pendapatan yang terkait dengan
pemakaian sama dari period eke periode.
- Metode Unit Produksi (Unit Production
Method)
Jika tingkat pemanfaatan aset tetap
bervariasi dari tahun ke tahun, dan lamanya umur ekonomis berkaitan erat
dengan tingkat pemakaian, maka metode unit produksi lebih tepat dipakai
daripada metode garis lurus. Karena, metode unit produksi mampu membandingkan
lebih baik beban penyusutan dengan pendapatan terkait.
Metode Unit Produksi (Unit
Production Method) menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama bagi
setiap unit yang diproduksi atau setiap unit kapasitas yang digunakan oleh
aset. Untuk menerapkan metode ini umur manfaat aset diekspresikan dalam istilah
unit kapasitas produktif seperti jam atau mil. Total beban penyusutan untuk
setiap periode akuntansi kemudian ditentukan dengan mengalikan penyusutan per
unit dengan jumlah unit yang dihasilkan atau digunakan selama periode dimaksud.
Sebagai contoh asumsikan bahwa sebuah mesin dengan harga perolehan Rp
240.000.000,- dan prediksi nilai sia Rp 20.000.000,- diperkirakan memiliki umur
manfaat 10.000 jam operasi. Dari data tersebut maka penyusutan per jam diitung
sebagai berikut:
Rp 240.000.000 – Rp 20.000.000
----------------------------------------
= Rp 22.000.000,- penyusutan per jam
10.000 jam
Dengan mengasumsikan bahwa mesin
dioperasikan 2.100 jam selama satu tahun, maka penyusutan tahun tersebut adalah
Rp 46.200.000 ( Rp 22.000.000 x 2.100 jam).
- Metode Saldo Menurun (Declining
Balance Method)
Metode saldo menurun menghasilkan
beban periodic yang terus menurun sepanjang estimasi umur manfaat aset. Untuk
menerapkan metode ini, tariff penyusutan garis lurus tahunan terlebih dahulu
harus digandakan. Sebagai contoh tariff penyusutan saldo menurun atas suatu
aset yang memiliki estimasi umur manfaat 5 tahun adalah 40% yaitu dua kali
tariff garis lurus sebesar 20% (100% / 5).
Untuk tahun pertama, biaya aset
dikalikan dengan tariff saldo menurun. Setelah tahun pertama, nilai buku
(book value) yang menurun (biaya dikurangi akumulasi penyusutan) dikalikan
dengan tariff yang dimaksud. Sebagai contoh, penyusutan saldo menurun tahunan atas
suatu aset yang memiliki umur manfaat 5 tahunan dan biaya $24.000
dikperlihatkan berikut ini:
|
Tahun
|
Harga Perolehan
|
Akumulasi Penyusutan Awal Tahun
|
Nilai Buku Awal Tahun
|
Tarif
|
Penyusutan Tahunan
|
Nilai Buku Akhir Tahun
|
|
|
1
|
$24,000
|
0
|
$24,000.00
|
X
|
40%
|
$9,600.00
|
$14,400.00
|
|
2
|
$24,000
|
$9,600.00
|
14,400.00
|
X
|
40%
|
5,760.00
|
$8,640.00
|
|
3
|
$24,000
|
15,360.00
|
8,640.00
|
X
|
40%
|
3,456.00
|
$5,184.00
|
|
4
|
$24,000
|
18,816.00
|
5,184.00
|
X
|
40%
|
2,073.60
|
$3,110.40
|
|
5
|
$24,000
|
20,889.60
|
3,110.40
|
X
|
-
|
1,110.40
|
$2,000.00
|
Perhatikan bahwa pada saat
perusahaan menggunakan metode saldo menurun, estimasi nilai sisa tidak
diperhitungkan dalam penentuan tariff penyusutan. Nilai sisa juga diabaikan
dalam penghitungan periode penyusutan. Namun aset tidak boleh disusutkan
melampaui estimasi nilai sisa. Dalam contoh di atas,estimasi nilai sisa adalah
$2,000. Jadi penyusutan tahun ke-5 adalah $1,110.40 yaitu $3,110.40 dikurangi
$2,000, bukan $1,244.16 yaitu dari 40% x $3,110.40.
Pengeluaran Modal dan Pengeluaran
Pendapatan
Setelah perolehan, masih terdapat
biaya-biaya yang muncul selama penggunaan aset tetap. Misalnya biaya
pemeliharaan (maintenance), penambahan (additions),
penggantian (replacements) atau perbaikan (repairs). Pada
dasarnya pengeluaran-pengeluaran untuk aset tetap setelah perolehan dapat
dikategorikan menjadi pengeluaran modal (capital expenditures) dan
pegeluaran pendapatan (revenue expenditures).
Pengeluaran modal adalah
pengeluaran-pengeluaran yang harus dicatat sebagai aset (dikapitalisasi).
Pengeluaran jenis ini akan mendatangkan manfaat lebih dari satu periode
akuntansi, akan menambah efisiensi aset tetap, memperpanjang masa manfaat atau
meningkatkan kapasitas atau mutu produksi. Yang termasuk dalam pengeluaran
modal adalah penambahan AC pada mobil, penambahan teras pada gedung,
penggantian generator pada sebuah mesin, perbaikan besar-besaran (overhaul).
Pengeluaran pendapatan adalah
pengeluaran-pengeluaran yang hanya mendatangkan manfaat untuk tahun di mana
pengeluaran tersebut dilakukan. Oleh karena itu pengeluaran ini dicatat sebagai
beban. Contohnya adalah pemeliharaan dan perbaikan rutin sebuah mesin. Beban
pemeliharaan dilakukan agar aset tetap selalu berada dalam keadaan baik.
Sementara beban perbaikan dikeluarkan agar mesin tetap dalam keadaan baik hingga
dapat beroperasi secara optimal.
2.4 Pengakuan Transaksi Aset Tetap
Aset tetap
diakui oleh perusahaan apabila telah dilakukan transaksi pembelian aset tetap
yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur pengakuan aset
tetap akan melibatkan dua fungsi, yaitu:
- Fungsi Pembelian, bertanggung
jawab terhadap proses pembelian aset tetap yang dibutuhkan oleh
perusahaan, mulai dari jenis aset tetap, spesifikasi teknis aset tetap,
harga beli aset tetap, biaya-biaya lain yang mugkin muncul sempai aset
tetap tersebut siap digunakan.
- Fungsi Akuntansi,
bertanggung jawab terhadap pencatatan transaksi pembelian aset tetap,
mulai dari nilai aset tetapnya sampai dapat ditentukannya biaya perolehan
aktvia tetap yang bersangkutan. Selain itu fungsi akuntansi juga harus
menghitung beban penyusutan setiap periodenya sesuai dengan metode
penyusutan yang ditetapkan.
2.5 Pelaporan Aset Tetap
Aset tetap
dilaporkan dalam neraca. Aset tetap harus dirindi menurut jenisnya, seperti
misalnya tanah, gedung, mesin-mesin, peralatan, kendaraan dan lain-lain.
Akumulasi disajikan sebagai pengurang terhadap aset tetap, baik secara
sendiri-sendiri menurut jenisnya atau secara keseluruhan. Apabila di neraca
akumulasi penyusutan dikurangkan secara keseluruhan, maka dalam catatan atas
laporan keuangan perlu dibuatkan rincian harga perolehan masing-masing jenis
aset serta masing-masing penyusutannya. Metode penyusutan yang dianut oleh
perusahaan serta taksiran masa manfaat, perlu dijelaskan dalam laporan
keuangan.
Akun aset
tetap di buku besar perlu dibuatkan rinciannya dalam buku aset
tetap (fixed assets subsidiary ledger) . Buku tambahan ini merinci
aset di buku besar menurut jenisnya. Untuk setiap aset tetap dibuatkan kartu
tersendiri. Dari kartu-kartu aset tetap ini, pada saat tertentu dapat dibuatkan
dafta rincian aset tetap. Berikut contoh kartu aset tetap.
|
Nama AsetTetap
|
: Mobil, sedanToyota
Corolla, 1982
|
NomorAkun
|
:123-44
|
|
|
Seri Nomor
|
: B-1907-HA
|
Akun Buku Besar
|
:Kendaraan
|
|
|
Dibeli dari
|
:Astra Motor
|
Harga Perolehan
|
:Rp10.000
|
|
|
Penanggung jawab
|
:Bambang ST
|
TaksiranUmur
|
:5 tahun
|
|
|
Tanggal diperoleh
|
:2-1-200A
|
Nilai Sisa
|
:0
|
|
|
Metode Penyusutan
|
:Garis Lurus
|
|||
|
Tanggal
|
Keterangan
|
Harga Perolehan
|
Akumulasi Penyusutan
|
Nilai Buku
|
|
200A
|
||||
|
Jan2
|
Pembelian
|
10,000,000
|
10,000,000
|
|
|
Des 31
|
Penyusutan
|
2,000
|
8,000,000
|
|
|
200B
|
||||
|
Des 31
|
Penyusutan
|
2,000
|
6,000,000
|
|
|
200C
|
||||
|
Des 31
|
Penyusutan
|
2,000
|
4,000,000
|
|
|
200D
|
||||
|
Des 31
|
Penyusutan
|
2,000
|
2,000,000
|
|
|
2005
|
||||
|
Jun 15
|
Perbaikan
|
(1,750)
|
3,750,000
|
Posted in:
2.6
Pengertian Depresiasi
Depresiasi
adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan
penggunaannya. Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan
terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas
nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Depresiasi
adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan. Properti yang
dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut:
1.
Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
2.
Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari
setahun.
3.
Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/ kehancuran,
usang, atau mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
4.
Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau properti investasi.
Properti
yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi:
-
nyata (tangible): dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal
(personal property) seperti mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan
item-item yang sejenis; dan properti riil (real property) seperti tanah dan
segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah
tersebut.
-
tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau
franchise.
Depresiasi
merupakan komponen penting dalam analisis ekonomi teknik, karena:
1.
Dapat dipergunakan untuk mengetahui nilai suatu asset sesuai dengan waktu.
2.
Dapat dipergunakan untuk mengalokasikan depresiasi (accounting depreciation)
nilai asset tersebut. Pengalokasian tersebut dipergunakan untuk menjamin bahwa
asset yang telah diinvestasikan dapat diperoleh kembali setelah masa layannya
selesai.
3.
Dengan depresiasi dapat dipergunakan untuk pengurangan pengenaan pajak dengan
jalan bahwa asset yang diinvestasikan diperhitungkan sebagai biaya produksi,
sehingga hal ini berkaitan dengan pajak.
2.7 Kriteria
Barang Terkena Depresiasi
Properti
yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut :
Harus
digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
Harus
mempunyai umur manfaat tertentu dan umurnya harus lebih lama dari satu tahun.
Merupakan
sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/kehancuran, usang atau
mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
Bukan
inventaris, properti investasi, persediaan atau stok penjualan.
Properti
yang dapat didepresikan dikelompokkan menjadi :
Nyata
(tangible) : dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal
seperti mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan item-item yang sejenis,
serta properti riil seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau
tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut.
Tidak
nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.
metode
garis lurus
Dalam
metode garis lurus maka nilai terdepresi / nilai yang didepresiasikan dari
sebuah aktiva dibagi rata sepanjang taksiran umur manfaat aktiva tersebut.
Depresiasi=(
Nilai Aktiva – Residu ) / Taksiran Umur Manfaat
contoh
Sebuah truk dibeli oleh PT Suka Maju pada tgl 1 Februari
19x1, harga beli Rp. 12.000.000, biaya perbaikan Rp. 1.000.000 taksiran nilai
residu Rp. 1.000.000, taksiran masa manfaat 5 tahun, tentukan depresiasi
biaya
depresiasi = 13.000.000 – 1.000.000 / 5 : 2.400.000
table
depresiasi
|
Tahun
|
Jml terdepresiasi
|
Biaya depresiasi
|
Akumulasi depresiasi
|
Nilai buku
|
|
19x1
19x2
19x3
19x4
19x5
|
12.000.000
12.000.000
12.000.000
12.000.000
12.000.000
|
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
|
2.400.000
4.800.000
7.200.000
9.600.000
12.000.000
|
10.600.000
8.200.000
5.800.000
3.400.000
1.000.000
|
Hitunglah
tariff
depresiasi
depresiasi
pertahun
nilai
buku setelah 5 tahun
dari suatu aktiva yang berharga Rp. 10.000.000 yang
dibeli tanggal 5 Januari. Setelah
akhir umur manfaatnya selama 10 tahun nilai sisa Rp. 2.000.000.
tariff
depresiasi : 100% / umur taksiran
:
100% / 10 : 10%
depresiasi : (harga perolehan – nilai sisa) x tariff
depresiasi/tahun
:
10.000.000 – 2.000.000 x 0,1
:
800.000/ tahun
nilai
buku
depresiasi selama 5 tahun : 800.000 x 5 = Rp. 4.000.000
nilai buku : harga perolehan – akumulasi depresiasi
:
10.000.000 – 4.000.000
:
6.000.000
Metode
Unit Produksi
Dalam
metode ini nilai depresiasi tergantung kepada banyaknya produksi yang sudah
dihasilkan oleh aktiva tersebut ( biasanya berupa mesin produksi ). Semakin
banyak produksi yang dihasilkan oleh mesin tersebut maka akan semakin banyak
pula depresiasinya.
Depresiasi
=( Produksi yang dihasilkan / Taksiran Kemampuan Berproduksi ) x Nilai
Terdepresi
Contoh
:
PT
Kita membeli mobil bekas seharga Rp. 600.000 dan mengeluarkan Rp. 150.000
sebagai biaya reparasi, berapa depresiasinya dan nilai buku pada akhir tahun kedua
jika mobil tersebut mempunyai nilai sisa Rp. 150.000 dan taksiran umur manfaat
85.000 km lagi, pada tahun pertama mobil dipakai sejauh 12.000 km dan tahun ke
dua menempuh 14.000 km
depresiasi
perunit : 750.000 – 150.000 / 85.000 km
:
Rp 7 / km
Depresiasi
th 1 : 7 x 12.000 : 84.000
th
2 : 7 x 14.000 : 98.000
akumulasi
depresiasi : 84.000 + 98.000 = 182.000
nilai
buku akhir tahun kedua : 750.000 – 182.000 = 568.000
Metode
Saldo Menurun Ganda
Metode
ini tidak memperhitungkan adanya nilai sisa / residu. Depresiasi tiap periode
menggunakan prosentasi yang sama akan tetapi menghasilkan nilai yang berbeda
karena nilai depresiasi pertama mengurangi nilai aktiva pada periode kedua dan
seterusnya. Artinya nilai aktiva setiap periode selalu berbeda karena nilai aktiva
menurun.
Prosentasi
Depresiasi =( 100% / taksiran umur manfaat )x2
Depresiasi
Periode 1= Prosentase Depresiasi xNilai Aktiva Periode 1
DEpresiasi
Periode 2 =Prosentase Depresiasi x Nilai Aktiva Periode2. Dimana nilai aktiva
periode 2 adalah nilai aktiva awal dikurangi nilai depresiasi periode 1.
contoh :
Sebuah truk dibeli oleh PT Bromo pada tgl 1 Januari 19x1,
harga beli Rp. 12.000.000, biaya perbaikan Rp. 1.000.000 taksiran nilai residu
Rp. 1.000.000, taksiran masa manfaat 5 tahun, tentukan depresiasi
biaya
depresiasi : 13.000.000 x 40% : 5.200.000
|
Tahun
|
Jml terdepresiasi
|
Tariff
|
Biaya depresiasi
|
Akumulasi depresiasi
|
Nilai buku
|
|
19x1
19x2
19x3
19x4
19x5
|
13.000.000
7.800.000
4.680.000
2.808.000
1.685.000
|
40%
40%
40%
40%
40%
|
5.200.000
3.120.000
1.872.000
1.123.000
685.000
|
5.200.000
8.320.000
10.192.000
11.315.000
12.000.000
|
7.800.000
4.680.000
2.808.000
1.685.000
1.000.000
|
Jika suatu aktiva mempunyai nilai sisa maka depresiasi
untuk tahun terakhir dihitung sbb :
Depresiasi
: Nilai buku awal tahun terakhir – nilai sisa
:
1.685.000 – 1.000.000 : 685.000
METODE
JUMLAH ANGKA TAHUN
Dalam
metode ini depresiasi pada periode pertama jumlahnya paling besar dan dan pada
periode terakhir depresiasinya paling kecil. Jadi depresiasi setiap periode berkurang
sesuai dengan jumlah angka tahun taksiran umur manfaatnya. Jika taksiran umur
manfaat n tahun maka cara menghitungnya adalah
S
= n(n+1)/2
Depresiasi
tahun 1 =( n / S ) x Nilai Terdepresi
Depresiasi
tahun 2=( ( n-1 )/ S ) x Nilai Terdepresi
Depresiasi
tahun 3=( ( n-2 ) / S ) x Nilai Terdepresi
Seterusnya
sampai habis taksiran umur manfaatnya.
Contoh
:
Sebuah
mesin dibeli oleh PT Texmaco, berapa depresiasinya untuk 2 tahun pertama jika
mesin punya nilai sisa 192.000 dan taksiran umur manfaat 25 tahun, harga mesin
tersebut 1.350.000
Jawab
S
: 25 (25+1) / 2 : 325
Jumlah
terdepresiasi : 1.350.000 – 192.000 : 1.158.000
Depresiasi
: jumlah terdepresiasi x angka pecahan
Th
1 : 1.158.000 x 25/325 : 89.077
2
: 1.158.000 x 24/325 : 85.513
2.8 Aset Tak
Berwujud
Aktiva tak
berwujud adalah hak, hak istimewa dan keuntungan kompetitif yang timbul
dari pemilikan suatu aktiva yang berumur panjang, yang tidak memiliki wujud
fisik tertentu. Bukti pemilikan aktiva tak berujud bisa berupa kontrak, lisensi
atau dokumen lain. Aktiva tidak berwujud mungkin timbul dari:
1. Pemerintah –
seperti hak paten, hak cipta, franchise, merek dagang dan nama dagang.
2. Perusahaan
lain – misalnya pembelian yang mencakup pembayaran untuk goodwill.
3. Penjualan
tertentu – seperti franchise dan lease.
Secara umum,
akutansi untuk aktiva tak berujud adalah sejalan dengan akutansi untuk aktiva
tetap. Seperti halnya aktiva tetap, aktiva berujud juga dicatat atas harga
dasar harga perolehan dan harga perolehan ini dihapus secara rasuonal dan
sistematis selama masa manfaat aktiva tak berujud tersebut. Jika pada suatu
saat dihentikan, maka nilai buku aktiva tak berujud dihapuskan dari pembukuan
dan dicatat pula laba atau rugi penghentian (jika ada).
Namun
demikian, terdapat sejumlah perbedaan antara akutansi aktiva tak berujud bila
dibandingkan dengan akutansi aktiva tetap. Pertama, istilah yang digunakan
untuk menghapus aktiva tak berujud adalah amortisasi (bukan depresiasi). Untuk
mencatat amortisasi aktiva tak berujud maka rekening Biaya Amortosasi didebet
dan rekening aktiva tak berujud yang bersangkutan dikredit. Alternatif lain,
bisa juga dikredit rekening Akumulasi Amortisasi, seperti halnya akumulasi
depresiasi pada aktiva tetap. Namun sebagian besar perusahaan memilih cara yang
sederhana, yaitu dengan langsung mengkredit rekening aktiva tak berujud.
Perbedaan kedua ialah bahwa periode amortisasi suatu aktiva tak berujud tidak
boleh melebihi 40 tahun. Sebagai contoh, jika masa manfaat suatu aktiva tak
berujud adalah 60 tahun, maka amortisasinya harus dilakukan 40 tahun. Akan
tetapi jika masa menfaat aktiva tak berujud kurang dari 4 tahun, maka masa
manfaat itulah yang akan digunakan. Aturan tesebut dimaksudkan untuk menjaga
agar semua aktiva tak berujud, terutama yang tidak ketentuan masa manfaatnya,
dihapus dalam periode waktu yang wajar.
Berbeda
dengan aktiva tetap, amortisasi aktiva tak berujud hanya mengenal satu metoda,
yaitu metoda garis lurus. Oleh karena itu, perlakuan akutansi aktiva tak
berujud pada berbagai perusahaan relatif mudah diperbandingkan.
2. Karakteristik
Aktiva tidak Berwujud
Aktiva tak berwujud mempunyai
karakteristik penting, yaitu :
a) Kurang
memiliki eksistensi fisik, tidak seperti aktiva berwujud seperti property,
pabrik, dan peralatan, aktiva tak berwujud memperoleh nilai dari hak dan
keistimewaan atau privilege yang diberikan pada perusahaan yang menggunakannya.
b) Bukan
merupakan instrument keuangan, aktiva seperti deposito bank, piutang usaha, dan
investasi jangka panjang dalam obligasi serta saham tidak memiliki substansi
fisik, tetapi tidak diklasifikasikan sebagai aktiva tak berwujud. Aktiva ini
merupakan instrument keuangan dan menghasilkan nilainya dari hak untuk menerima
kas atau ekuivalen kas di masa depan.
c) Bersifat
jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi, Aktiva tak berwujud menyediakan
jasa selama periode bertahun tahun. Investasi dalam aktiva ini biasanya
dibebankan pada periode masa mendatang melalui beban amortisasi periodik.
Akuntansi
untuk aktiva tak berwujud mempunyai masalah yang sama dengan akuntansi aktiva
jangka panjang lainya, yaitu menentukan nilai terbawa awalnya, akuntansi untuk
jumlah setelah akuisisi dalam kondisi bisnis normal ( amortisasi ), dan
akuntansi untuk jumlah jika nilainya turun secara substansial serta
terus-menerus.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Fase
perolehan aktiva tetap adalah fase dimana aset tetap diperoleh hingga aset
tetap tersebut dapat digunakan atau berfungsi. Permasalahan yang timbul pada
fase ini meliputi:
Juga
meliputi: Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan
(disclosure) atas perolehan aset tetap.
Penggunaan Aset Tetap
Fase
dimana saat aset tetap sudah dan sedang dioperasikan, biasanya permasalahan
yang timbul pada fase ini antara lain :
·
Penilaian Kembali
(Revaluation)
Penarikan Aktiva Tetap | Retirement of Plant Assets
Pada
penarikan aktiva tetap ini, pembahasan bisa dibagi menjadi :
·
Penukaran Aset Tetap
·
Laba-Rugi Penarikan
Aset Tetap
Beserta : Penilaian (pengukuran),
Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas penarikan aset tetap.
Perlakuan
Aset tetap juga menyenggol hal hal dibawah ini, kalau sempat nanti juga
diposting
·
Audit dan Rasio Aktiva
Tetap
·
Penilaian Investasi
atas Aktiva Tetap
·
Sekilas mengenai Aktiva
Tetap Sumber Daya Alam
Kejadian kejadian khusus juga menarik
untuk dibahas nantinya seperti aset yang tercuriatau aset terbakar,
perlakuannya bagaimana?
Metode yang paling mudah dan paling
sering digunakan untuk menghitung penyusutan adalah metode penyusutan garis
lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula metode
penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan
dipercepat, penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.
Deplesi merupakan istilah lain dari
penyusutan atau amortisasi. Deplesi digunakan khusus untuk sumber daya alam
yang tidak dapat diperbaharui, misalnya bijih besi, hasil tambang, kayu hutan
dsbnya.
Deplesi dihitung dengan tarif
deplesi yang diperoleh dari Beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak
penambangan dibagi estimasi hasil yang akan diperoleh.
DAFTAR
PUSTAKA
Jusup, Al.
Haryono.1993. Dasar-Dasar Akuntansi 2. Edisi 4. Yogyakarta: Bagian
Penerbitan STIE YKPN.
Hendriksen, S.
Eldon.,dan Nugroho W. Teori Akuntansi. Edisi 4. Jakarta: Erlangga.`
Tuanakotta, M.
Theodorus. Teori Akuntansi 2. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar